KONSEP DIRI  

Thursday, November 25, 2010

konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal,
emosional intelektual , sosial dan spiritual.


Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat,
baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan
stabil.
Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan
serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini
akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal.
Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di lahirkan, tetapi secara
bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan perkembanga individu, konsep diri
akan terbentuk karena pengaruh ligkungannya . selain itu konsep diri juga akan di
pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk
berbagai stressor yang dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi
individu terhadap dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman
akan situasi tertentu.
Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat di ketahui melalui rentang
respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri terdiri dari
beberapa bagian, yaitu : gambaran diri (body Image), ideal diri, harga diri, peran
dan identitas.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


PERUBAHAN SENSORI PERSEPSI : HALUSINASI  

Halusinasi merupakan gejala mayor pada skizofrenia...

DEFINISI
Halusinasi adalah distorsi persepsi yang timbul karena beberapa dari lima perasaan/indra.

DERAJAT HALUSINASI
1. Comforting (kecemasan level sedang, biasanya menyenangkan)
Karakteristik : pengalaman emosional yang kuat seperti kecemasan, merasa sendiri, perasaan bersalah, kejahatan, dan ketakutan dan klien mencoba fokus pada pikiran yang menyenangkan untuk membebaskan dari nyeri. Klien mengenali bahwa pikiran dan pengalaman sensori bisa dikontrol jika kecemasan diatur/dikendalikan. Nonpsikotik.
Perilaku : tersenyum/tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa ada suara yang keluar, gerakan mata yang cepat, respon verbal yang sangat lambat, diam dan linglung.
2. Condemning (kecemasan level berat, biasanya mengerikan)
Karakteristik : pengalaman sensori yang mengerikan dan menakutkan. Dimulai dengan merasa kehilangan kontrol dan mencoba menjauh dari sumber yang dapat dilihat. Klien mungkin merasa disulitkan dengan pengalaman sensori itu dan menarik diri dari orang lain. Psikotik sedang.
Perilaku : peningkatan tanda-tanda vital (TD, RR, HR), perhatian menyempit, linglung, kemungkinan tidak bisa membedakan antara halusinasi dengan realitas.
3. Controlling (kecemasan level berat, sensory experience become omnipotent)
Karekteristik : halusinator menimbulkan pertentangan, dan klien mengalah. Ketika halusinasi mungkin akan, dan klien akan merasa sendiri. Psikotik.
Perilaku : keringat dingin, tremor, tidak mampu mengikuti perintah, sulit berhubungan dengan orang lain, perhatian hanya beberapa detik atau menit.
4. Concuering (kecemasan level panik, generally becomes elaborate and interwofen with delusion )
Karakteristik : pengalaman sensori mungkin mengancam, halusinasi akan bertahan beberapa jam atau hari jika tidak mendapat intervensi terapeutik. Psikotik berat.
Perilaku : panik, potensial bunuh diri, perilaku kekerasan, bingung, menarik diri, kataton, tidak dapat mengikuti perintah yang kompleks, tidak mampu mengikuti satu orang atau lebih.

STRATEGI MERAWAT PASIEN DENGAN HALUSINASI
1. Membina hubungan interpersonal, saling percaya
2. Mengkaji gejala halusinasi
3. Fokuskan pada gejala dan minta individu untuk menguraikan apa yang sedang terjadi
4. Identifikasi kemungkinan pernah menggunakan obat dan alkohol
5. Jika ditanya, katakan secara singkat bahwa anda tidak sedang mengalami stimulus yang sama
6. Bantu individu untuk menguraikan dan membandingkan halusinasi yang sekarang dengan yang terakhir dialaminya
7. Dorong individu untuk mengamati dan menguraikan pikiran, perasaan, dan tindakannya, sekarang, atau yang lalu berkaitan dengan halusinasi yang dialaminya
8. Bantu individu menguraikan kebutuhan yang mungkin tercermin pada isi halusinasinya
9. bantu individu mengidentifikasi apakah ada hubungan antara halusinasi dengan kebutuhan yang mungkin tercermin
10. Sarankan dan perkuat penggunaan hubungan interpersonal dalam pemenuhan kebutuhan
11. Identifikasi bagaimana gejala psikosis lain telah mempengaruhikemampuan individu untuk melaksanakan aktivitas hidup sehari-hari

Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


interaktif  

Thursday, November 18, 2010

mau Tanya nie, pasien gangguan jiwa kok sulit sembuh dan sering kambuh ya……..????


Jawaban :

terima kasih atas pertanyaan dari mas……sebelum membahas kenapa gangguan jiwa tersebut sulit sembuh atau pasienya sering kambuh sehingga bolak-baik ke Rumah sakit, ada baiknya kita mengenal gangguan jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan dalam : cara berpikir (cognitive), kemauan (volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor). Dari berbagai penelitian dapat dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Keabnormalan terlihat dalam berbagai macam gejala yang terpenting diantaranya adalah: ketegangan (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang terpaksa (Convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk dsb.

Mas…..Penyebab gangguan jiwa adalah multikausal, jadi bukan hanya disebabkan oleh satu hal saja, karena, manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga secara Organobioliologis(badany/organya), psychoeducative(intelegensia, interaksi ibu dan anak, peranan ayah, persaingan saudara kandung, hubungan dalam keluarga, konsep diri, kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, pekerjaan dll), sosiocultural (kestabilan keluarga, pola asuh anak, tingkat ekonomi, perumahan di desaatau dikota, masalah kelompok minoritas yang meliputi pelayanan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai, pengaruh rasial diskriminatif dan keagamaan serta nilai-nilai) . Dalam mencari penyebab gangguan jiwa, maka ketiga unsur ini harus diperhatikan. Yang mengalami sakit dan menderita ialah manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya.

Setelah mengetahui tentang gangguan jiwa dan penyebabnya, maka kita harus mengetahui bagaimana cara mengatasi dan memelihara derajat kesehatan kita. Ada beberapa macam terapi yang digunakan untuk menurunkan atau mereduksi gangguan jiwa diantaranya, psikoterapi, art terapi, terapi aktivitas kelompok, terapi kognitif, terapi farmakologis, terapi kejang listrik atau electroconvulsive therapy, therapy lingkungan dll. Kombinasi dari beberapa therapy tersebut mampu mereduksi tingkat keparahan gangguan jiwa, untuk menggapai kesembuhan total maka peran keluarga menjadi supporting faktor untuk mendukung penyembuhan. Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan “perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah.Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh).

Ada Empat faktor penyebab klien kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit, menurut Sullinger, 1988 :
1. Klien : Sudah umum diketahui bahwa klien yang gagal memakan obat secara teratur mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 25% sampai 50% klien
yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara teratur (Appleton, 1982, dikutip oleh Sullinger, 1988)
2. Dokter (pemberi resep) : Makan obat yang teratur dapat mengurangi kambuh, namun pemakaian
obat neuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol.
3. Penanggung jawab klien: Setelah klien pulang ke rumah maka perawat puskesmas tetap bertanggung jawab atas program adaptasi klien di rumah.
4. Keluarga : Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi (bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan menyalahkan), hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan 17% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi keluarga yang rendah. Selain itu klien juga mudah dipengaruhi oleh stress yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan (kematian/kecelakaan).

Peran serta keluarga sejak awal asuhan di RSakan meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan dapat dicegah. Pentingnya peran serta keluarga dalam klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan perilaku (Clement dan Buchanan, 1982, hal. 171). Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan di masyarakat.

mengapa penderita gangguan jiwa banyak yang enggan kembali ke rumah sendiri dan betah menjadi pasien di rumah sakit jiwa, bahkan beberapa menjadi pembantu tanpa dibayar di rumah sakit jiwa, mereka memilih tetap berstatus pasien gangguan jiwa meski sebenarnya secara pemeriksaan mereka sudah diperbolehkan pulang, atau setelah pulang beberapa hari kemudian pasien masuk lagi ke RS, ada beberapa alasan yang mendasari.
1. Keluarga tidak menerima kehadiran anggota keluarg yang menderita gangguan jiwa. 2. masyarakat membentuk stigma negatif terhadap penderita. 3. pasien belum memiliki satu alasan mengapa dia harus kembali. 4. pasien masih belum siap dengan perubahan situasi. 5. secara total pasien tidak bisa sembuh tanpa dukungan sosial.

mengapa sebagai masyarakat setiap melihat penderita gangguan jiwa ada yang merasa terancam, ada yang memberikan stigma dengan julukan misalkan "stress" atau istilah lain yang terkesan merendahkan martabat manusia, penderita gangguan jiwa juga manusia yang membutuhkan perhatian dari siapapun. penderita gangguan jiwa bukanlah kriminal yang harus dimusuhi, mereka tidak pernah mengharapkan untuk menderita gangguan jiwa, situasi yang membuat mereka tidak kuat dan akhirnya mengalami gangguan jiwa.

Edukasi yang benar tentang klien gangguan jiwa akan menambah wawasan masyarakat bahwa peran mereka sangat penting, penderita gangguan jiwa adalah korban yang harus ditangani dan dikelola. Rumah sakit jiwa adalah satu bagian dari proses rehabilitasi tetapi keluarga dan masyarakat yang membuat penderita jiwa bisa kembali hidup di masyarakat secara normal, jika masih banyak orang negatif yang memberikan stigma ke mereka maka penderita gangguan jiwa akan merasa tidak berguna dan menikmati gangguan jiwanya.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


PSYCHIATRIC INTENSIVE CARE UNIT  

Unit perawatan intensif psikiatri adalah suatu unit yang memberikan perawatan khusus kepada pasien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan pengawasan ketat.


Kondisi darurat psikiatri memiliki criteria berikut :
- Ancaman segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan.
- Kehilangan kehidupan, gangguan kesehatan, kerusakan harta benda dan lingkungan.
- Cenderung peningkatan bahaya yang tinggi dan segera terhadap kehidupan, kesehatan, harta benda atau lingkungan.
Tindakan intensif adalah tindakan yang diberikan secara terus menerus pada pasien dengan kondisi darurat. Tindakan intensif diberikan dengan level kedaruratan yang dialami pasien. Secara umum ada tiga fase tindakan intensif bagi pasien yaitu : fase intensif I, II, III.
a. Fase intensif I (24 jam pertama)
Prinsip tindakan
- life saving
- Mencegah cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan
Indikasi
Pasien dengan skor 1-10 RUFA
Intervensi
- observasi ketat
- KDM
- Terapi modalitas : terapi musik
b. Fase intensif II (24-72 jam pertama)
Prinsip tindakan
- observasi lanjutan dari fase krisis (intensif I)
- mempertahankan pencegahan cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan
Indikasi
Pasien dengan skor 11-20 RUFA
Intervensi
- observasi frekuensi dan intensitas yang lebih rendah dari fase intensif I
- terapi modalitas : terapi music dan olah raga
c. Fase intensif III (72 jam-10 hari)
Prinsip tindakan
- observasi lanjutan dari fase akut (intensif II)
- memfasilitasi perawatan mandiri pasien
Indikasi
Pasien dengan skor 21-30 RUFA
Intervensi
- observasi dilakukan secara minimal
- pasien lebih banyak melakukan aktivitas secara mandiri
- terapi modalitas : terapi music, terapi olah raga, life skill therapy


Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


PERILAKU KEKERASAN  

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.



Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995). Prilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering di sebut juga gaduh gelisah atau amuk di mana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak terkontrol (Yosep, 2007)
Perilaku kekerasan (agresif) adalah suatu bentuk perilaku yang diarahkan pada tujuan menyakiti atau melukai orang lain yang dimotivasi menghindari perilaku tersebut (Kaplan dan Sadock, 1997). Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana seseorang melakukan tindakan-tindakan yang dapat membahayakan atau mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan. Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993).

Berdasarkan defenisi ini maka perilaku kekerasan dapat dibagi dua menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik (Keltner et al, 1995).
Jadi perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana bentuk perilaku yang membahayakan yang bertujuan untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain secara fisik maupun fisiologis sebagai ungkapan perasaan yang dialami oleh seseorang.



Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


KEDARURATAN KESEHATAN MENTAL  


Kegawatdaruratan psikiatri adalah tiap gangguan dalam berpikir ,perasaan atau tingkah laku yang memerlukan intervensi pengobatan secepatnya.


Karena berbagai alasan seperti meningkatnya insidensi kekerasan, meningkatnya perhatian kepada peranan penyakit organik dalam perubahan status mental, dan epidemik alkoholisme dan gangguan penggunaan substansi lain yang menyebabkan jumlah pasien psikiatri terus bertambah (DR.Widjaja Kusuma,1997). Suatu kedaruratan psikiatri adalah gangguan dalam pikiran, perasaan, atau tindakan yang memerlukan terapi segera (Kaplan & Sadock,1993). Kegawatdaruratan Psikiatri merupakan aplikasi klinis dari psikiatri pada kondisi darurat. Kondisi ini menuntut intervensi psikiatri seperti percobaan bunuh diri, penyalahgunaan obat, depresi, penyakit kejiwaan, kekerasan atau perubahan lainnya pada perilaku.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Tingginya angka gangguan jiwa  


peningkatan angka gangguan jiwa sangat mencengangkan, terlebih dengan adanya tuntutan hidup dan berbagai persoalan yang dihadapi.



JUMLAH PENDUDUK : 250 JUTA
JUMLAH PENDUDUK DEWASA :
70% X 250 JT = 175 JUTA ORANG
ESTIMASI GG JIWA BERAT
0.46% X 175 JT = 805.000 ORANG
ESTIMASI POTENSI EKONOMI YG HILANG:
PASIEN: 805 rb X 1jt RP (UMR) = 805 M
CARE GIVER 1 ORANG MERAWAT = 805 M
TOTAL: 1.6 T /BULAN

Paradigma pencegahan gangguan jiwa yang dapat dipakai oleh setiap orang adalah paradigma pencegahan perilaku dan strategi pencegahan. Pencegahan perilaku diarahkan agar tidak terbentuk respon maladaptif. Perilaku khusus yang perlu dicegah antara lain menolak diri sendiri, melukai orang lain, kebiasaan tidak sehat seperti makan berlebihan, mabuk-mabukan, menyalahkan orang lain, menunda-nunda sesuatu, banyak berdalih, kegagalan berperan (sebagai mahasiswa, orang tua, pekerja, dll), terputusnya hubungan (seperti suami-istri, orang tua-anak, pekerja-bos, dll), perasaan overreaksi/ reaksi yang berlebihan seperti mudah panik, cemas pada situasi baru, mudah mengamuk, mudah melarikan diri dari sesuatu, serta ketidak mampuan psikologis seperti tidak bisa menerima sakit-penyakit, tidak punya kompensasi dan mudah frustasi walaupun dalam peristiwa normal.

Strategi pencegahan sakit jiwa dapat dilakukan melalui pendidikan kesehatan, perubahan lingkungan dan sistem support sosial yang ada. Pendidikan kesehatan dapat meningkatkan kompetensi respon adaptif, kemampuan kontrol diri, strategi koping yang efektif dan peningkatan harga diri. Perubahan lingkungan meliputi pemantapan ekonomi dan keuangan keluarga, mendapatkan pekerjaan atau pendidikan yang memadai, tempat kerja aatau rumah baru, dll. Sistem support sosial yang diberikan dapat menghilangkan atau meminimalkan stressor pencetus dan faktor resikonya. Mensupport klien jiwa bertujuan menguatkan koping yang dimiliki, merujuk pada sistem support sosial yang ada di masyarakat seperti Puskesmas, kelompok masyarakat yang ada, dll.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


ELECTRO CONVULTION THERAPY  

Thursday, November 4, 2010

ECT is basically an electric shock delivered to the brain which produces fits or seizures in the person receiving it. It has been controversial since it was first introduced and remains so today.


What is ECT?
ECT is basically an electric shock delivered to the brain which produces fits or seizures in the person receiving it. It has been controversial since it was first introduced and remains so today.
How many times is it given?
Usually between 6 and 12 times in a course of treatment.
How is it done?
The patient is asked to lie down on a bed in the treatment room. Their shoes, dentures, watches and jewellery are then removed.
Present in the room should be an anaesthetist (a doctor who specialises in putting you to sleep, looking after you while you are asleep, and then waking you up again), a pyschiatrist (a medical doctor specialising in mental illness), and one or more nurses.
The patient is hooked up to a few monitors via electrodes (or to most people sticky pads), generally placed on their head and fingers. These allow the doctors to monitor the patient during the treatment. The patient is then given injections. This is usually done via a needle that is inserted in the back of the hand, this is only done once and allows more than one drug to be put into the body without the need for a lot of injections.
The first drug injected puts the patient to sleep. Often at this point the patient will be given an oxygen mask to try and enrich the amount of oxygen in their blood, and thus reaching their brain and vital organs. Once the anaesthetist is satisfied that all the vital signs being monitored are safe, they will inject another drug. This is a muscle relaxant, that is designed to reduce the physical effects of the fit that the treatment will produce. In other words to stop peoples' arms and legs flailing around when they fit as this may injure them or other people.
The current is then charged up to the right level, this is typically around 80 volts. The psychiatrist then puts two padded electrodes on the patient's temples (or occassionally on the same side of the head), and the person is given a shock. Almost immediately, the patient stiffens as their muscles tighten up, and they will start to twitch. The anaesthetist will pass a tube down the patient's throat to ensure that the person can breathe and doesn't choke. The amount of time the twitching lasts is written down, this is basically how long the fit lasts.
Once the fit has finished, and the team is certain that there are no medical complications, the patient is ready to be woken up. A nurse will monitor a persons' recovery, and remove all the tubes and leads that were used in the treatment. This is often done in a specialised recovery room. When the person wakes up they are usually given a cup of tea or some such similar drink, and left for a while longer before they are ready to return to a hospital ward.
How does the person feel afterwards?
Pretty rough but this doesn't usually last for too long.
As people wake up they may feel confused, disorientated and even agitated. People have reported having headaches and a loss of recent memories (not too surprising really!). These usually fade and return to normal although it is common for people to go back to bed when they return to the ward and sleep for a couple of hours.
Sounds horrible why have it?
Because it's been shown to work, although nobody really knows how. Some people think that during the fit, a person's brain 'resets', almost like a computer.
It's usually used as a last resort treatment for serious long term (the technical name is endogenous) depression that won't go away using other more common treatments (like medication and psychotherapy). However, how it is used varies a lot from one area or hospital to another. Some professionals believe that it helps treat conditions like Schizophrenia, Mania (this is basically being 'hyper' or extremely excitable.
There is no convincing scientific evidence that it works for anything other than serious long-tern depression!
What are the risks with ECT?
The statistical risk of dying is roughly 4 in 100,000 people that receive ECT. Since it has been estimated that there are around 138,000 treatments a year in Britain, this means that six people may die.
Sounds bad, but when compared with how many people die from unintentionally overdosing on anti-depressant drugs (over 400 in Britain), the risk can be better judged.
Memory loss has also been reported to last a lot longer than a few hours, although there really isn't much research around in this area.
What should I check?
Before ECT is given, doctors are required by UK law to gain consent for treatment. If consent is not given, or if it is withdrawn at any time, the ECT should be stopped.
The only circumstances when it can be given without the patient's consent are when immediate ECT is judged necessary to save a patient's life or to prevent serious injury or death to other people (Perhaps meant for such cases as suicidal parents, who may pose a risk to their children?). Or, when the patient is detained in hospital under the law (in the UK, this is under something called the Mental Health Act, 1983 and is known as being Sectioned. However, even if the person is sectioned, this only applies under certain parts of the law, and a doctor is still required to get the agreement of two other people who have been caring for the patient, one must be a nurse, and the other is usually a social worker.
BEWARE ECT is still given for what seems to us at SimplePsych as dubious, not really thought through reasons. Often as a 'try it and see what happens' form of treatment or for various conditions such as Schizophrenia where there is no good evidence that it is more effective that other forms of treatment around. It is our opinion, that people with Personality Disorders may also be receiving it, quite inappropriately at times.
Since we have already said that about 138,000 treatments occur in Britain each year, and that only a small minority of people who suffer from depression, have an endogenous depression, the case for the misuse of ECT remains quite strong. Therefore, as a sort of safeguard checklist we would encourage you to ask the following questions before agreeing to ECT -
• Is there any therapy that can be used instead of ECT at the moment?
• Does the ECT offered here follow the guidelines recommended by the Royal College of Psychiatrists?
• How many treatments are planned and when will you know the person has had enough?
• If you remain unconvinced, seek some independent psychological/medical advice.
Summary
To summarise, ECT has been shown to work sometimes in severe long-term (endogenous) depression. Nobody really knows how it works but it is thought that something happens during the fit which some people think is like the effect of resetting a computer, all the basic things are still there when you start up again, but you may have lost some of the programs (ie negative thoughts and feelings) you have been running recently.
Finally, make sure that you fully understand why ECT is being given, and if in doubt seek some sort of independent advice.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


ASUHAN KEPERAWATAN JIWA ANAK DAN REMAJA  


A. Definisi
 Kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO)
 Suatu keadaan yang di tandai dengan fungsi intelektual berada di bawah normal, timbul pada masa perkembangan/dibawah usia 18 tahun, berakibat lemahnya proses belajar dan adaptasi sosial (D.S.M/Budiman M, 1991)
 Kelemahan/ketidakmampuan kognitif muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun) ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal ( IQ 70 – 75 atau kurang ), dan disertai keterbatasan lain pada sedikitnya dua area berikut :berbicara dan berbahasa;ketrampilan merawat diri, ADL; ketrampilan sosial; penggunaan sarana masyarakat; kesehtan dan keamanan; akademik fungsional; bekerja dan rileks, dll. (AAMR,1992).

B. Klasifikasi
Retardasi mental menurut American Psychiatric Association, 1994 , dibagi menjadi :
 Retardasi mental ringan : tingkat IQ 50 - 55 sampai kira-kira 70.
 Retardasi mental sedang : tingkat IQ 35 – 40 sampai 50 – 55.
 Retardasi mental berat: tingkat IQ 20 – 25 sampai 35 – 40.
 Retardasi mental yang amat sangat berat : tingkat IQ di bawah 20 - 25.
 Retardasi mental dengan keparahan yang tidak disebutkan :jika terdapat dugaan kuat adanya retardasi mental tetapi emintelligence orang tersebut tidak dapat diuji dengan tes standart.

C. Etiologi
 Organik
 Faktor prekonsepsi : kelainan kromosom (trisomi 21/down sindrom).
 Faktor prenatal : kelainan pertumbuhan otak selama kehamilan (infeksi, zat teratogenik dan toxin, disfungsi plasenta).
 Faktor perinatal : prematuritas, perdarahan intra kranial, asphyksia neonatorum dll).
 Faktor post natal : infeksi, trauma, gangguan metabolik/hipoglikemia, malnutrisi)
 Anorganik
 Kemiskinan dan keluarga tidak harmonis.
 Sosial kultural.
 Interaksi anak kurang.
 Penelantaran anak.
 Faktor – faktor lain : keturunan, pengaruh lingkungan dan kelainan mental lainnya.

D. Patofisiologi
Retardasi mental termasuk kelemahan atau ketidak mampuan kognitif yang muncul pada masa kanak – kanak (sebelum usia 18 tahun) yang ditandai dengn fungsi kecerdasan di bawah normal ( IQ 70 sampai 75 atau kurang) dan disertai dengan keterbatasan – keterbatasan lain pada sedikitnya dua area fungsi adaptif : berbahsa dan berbicara, ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, bersantai dan bekerja (AAMR 1992). Penyebab retardasi mental dapat digolongkan menjadi penyebab prenatal,yaitu penyakit kromosom (trisomi 21/down sindrom, sindrom Fragile-X, ganggunan sindrom (distrofi otot duchenne, neurofibromatosis (tipe1) ) dan gangguan metabolisme sejak lahir (fenilketonuria),perinatal,penyebab perinatal yaitu yang berhubungan dengan masalah intrauterin seperti abrupti plasenta, DM, prematur, serta kondisi neonatal termasuk meningitis dan perdarahan intra kranial, posnatal yaitu mencakup kondisi-kondisi yang terjadi karena cedera kepala, infeksi dan gangguan degeneratif dan demielinisdasi. Sindrom Fragile X, sindrom Down, dan sindrom alkohol fetal merupakan sepertiga individu-individu yang menderita retardasi mental. Munculnya masalah-masalah seperti paralisis serebral, defisit sensoris, gangguan psikiatrik dan kejang berhubungan dengan retardasi mental yang lebih berat. Diagnosis retardasi mental ditetapkan secara dini pada masa kanak-kanak, prognosis jangka panjang ditentukan seberapa jauh penderita dapat berfungsi mandiri dalam masyarakat.

E. Manifestasi klinik
 Gangguann kognitif
 Lambatnya ketrampilan ekpresi dan resepsi bahasa
 Gagal melewati tahap perkembangan yang utama
 Lingkar kepala diatas atau dibawah normal
 Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
 Kemungkinan tonus otot abnormal
 Kemungkinan ciri-cir dismorfik
 Terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar

F. Uji laboratorium dan diagnostik
 Uji inteligensia standar (Stanford-binet, Weschler, Bayley Scale of Infan Development)
 Uji perkembangan seperti Denver II
 Pengukuran fungsi adaptif (Vineland Adaptive Behavior Scale, Woodcock-Johnson Scale of Independen Behavior, School Edition of Adaptive Behavior Scales)

G. Komplikasi
 Serebral palsi
 Ganguan kejang
 Gangguan kejiwaan
 Gangguan konsentrasi/hiperaktif
 Defisit komunikasi
 Konstipasi (karena penurunan motilitas usus akibat obat-obatan antikonvulsi, kurang mengkonsumsi makanan berserat dan cairan)




H. Penatalaksanaan medis
Obat-obatan yang diberikan biasanya yaitu :
 Obat-obatan psikotropika, untuk remaja yang mempunyai perilaku membahayakan diri sendiri
 Psikostimulan untuk remaja yang mengalami gangguan konsentrasi/hiperaktif
 Antidepresan
 Karbamazepin

I. Pengkajian keperawatan
Pengkajian terutama ditujukan untuk menilai secara komprehensif mengenai kekurangan dan kekuatan yang berhubungan dengan ketrampilan adaptif : kominikasi, perawatan diri, interaksi sosial, penggunaan sarana prasarana di masyarakat, pengarahan diri, pemeliharaan kesehatan dan keamanan, akademik fingsional, pembentukan ketrampilan rekreasi dan ketenangan dan bekerja.

J. Diagnosa keperawatan
 Defisit perawatan diri : mandi/kebersihan, berhias, toileting
 Kerusakan komunikasi verbal
 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
 Risiko untuk keterlambatan perkembangan


Daftar Pustaka

Cecily L.Betz & Linda A. Sowden, 2001, Buku saku Keperawatan Pediatri, EGC Jakarta.
McCloskey J.C, Bulechek G.M, 1996, Nursing Intervention Classification (NIC), Mosby, St. Louis.
Nanda, 2001, Nursing Diagnoses : Definition and Classification 2001-2002, Philadelphia.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Design by Amanda @ Blogger Buster